Feeds:
Pos
Komentar

Nyanyian air Toba membelah irama syair
angin yang meniup pelan
matahari meredup memilah Pusuk Buhit

 

Lanjut Baca »

Iklan

Menara Rasa

Aku merasakan hadirmu
menjelma dalam kerdip bintang
dalam bening malam
tersenyum

Aku mencium baumu
dalam ingatan harum bunga aneka rupa
seputih pagi
di sini

Lanjut Baca »

Haidar Hafeez

amuk badai adalah bagian dari marah
kecamuk bergulung lambai pisah yang kau tebar selautan
aku terhempas diantara remuk sampan
terkesiap bagai belatung tancap telur di rerumputan hajau lautan asin
tarian kata lengak-lenggokkan gemulai pantat samudra
menepi terhunjam di halus pasir pantai susu
tiupan senyum telah buai kesalku akan kepastian itu
menanti tetas belatung eh ternyata capung
kakap merah berselera jadikan capung sarapan pagi

Lanjut Baca »

Samosir

Saut Situmorang

menyusuri jalanan batu
di pinggang ramping bukitan batu
angin danau yang panas
bangkitkan amarah purba nenek moyang

anak anak negeri terkutuk!
langit mengirimkan asap racun
mencekik mimpi mimpi malammu
bau mayat embun debu
berhembus dari dada susut anak anakmu!
tertawalah terus dengan angkuh
tertawalah di tengah padang semak ilalang
yang menarikan tortor kematianmu!

Lanjut Baca »

boasa partaba dipasombu
siala adong namanuan
boasa tungil dipasombu
disiala adong pamborgoi

molo luhut mangorom
marhagogoon ma harangan
luhut binanga dalan ngolu
ndang digetel hosa hangoluan

Lanjut Baca »

DANAU TOBA

Zulkarnain Siregar

yang kutulis ini
rasa malu yang menyala
bukan puisi bukan kata-kata
namun jiwa yang disepuh
tetesan sejuk air danau toba

sebab indah di puisi
orang-orang tak percaya
apalagi mengerti makna
bahwa danau penuh keramba

Lanjut Baca »

bukan janji

Zulkarnain Siregar

ia pun berhenti dan mati
dari perjalanan tak bertepi

tak ada lagi risau keluh
tak ada lagi tetes peluh

sebab jiwa telah pergi
sebab hati telah berjanji

Lanjut Baca »